26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

MEMAKNAI PERWUJUDAN KEMERDEKAAN HAKIKI

Oleh Tuti Febrimawati
(Muslimah Peduli Umat)

Suatu karunia yang sangat besar dari Allah SWT. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka secara fisik dari belenggu penjajah asing.
Hampir diseluruh wilayah di negeri ini memperingati hari kemerdekaan dengan berbagai perlombaan. Semuanya larut dalam kemeriahan peringatan kemerdekaan, apakah memang merasa benar-benar gembira atau sekedar pelarian ditengah kondisi negeri yang didera berbagai masalah yang tak ada ujungnya.

Negara ini memang sudah merdeka dari penjajahan fisik, namun belum merdeka dari penjajahan sistem Kapitalis buatan manusia yang rusak dan merusak tatanan kehidupan yang seharusnya menghamba kepada sang pencipta yakni Allah SWT, malah menghamba kepada manusia.

Negara disebut merdeka ketika terbebas dari penjajahan fisik, politik, ekonomi dan budaya. Dari penjajahan politik adalah ketika negara bebas menentukan segala kebijakan dan bebas menerapkan aturan dalam melindungi rakyatnya, tidak ada tekanan dari pihak asing. Sementara saat ini Indonesia berada dalam pusaran Amerika dan Cina, parahnya lagi Indonesia bergantung kepada kedua negara tersebut dalam menentukan kebijakan.
Terbebas dari penjajahan ekonomi adalah negara terlepas dari berbagai perjanjian dagang dan utang luar negeri, Negarapun harus mandiri dalam mengelola Sumber Daya Alam agar kepemilikan aset tidak berpindah pada swasta atau asing, namun pada faktanya kaptalisme telah menjerat negeri ini untuk masuk pada perjanjian dengan penjajah dan merugikan rakyat.

Oleh sebab itu penting mengubah cara berpikir masyarakat terutama kaum muslim di negeri ini tentang hakikat kemerdekaan. Bukan saja fisik yang merdeka, tetapi harus juga bebas dari penghambaan sesama manusia, termasuk dari cengkeraman neokolonialisme yang dilakukan imperialis dari arah Timur maupun Barat.

Sudah saatnya rakyat memahami bahwa kemerdekaan yang hakiki justru datang dengan kalimat tauhid dan berserah diri pada ajaran Islam. Rasulullah SAW pernah menulis surat kepada penduduk Najran, diantara isinya berbunyi:
….Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Akupun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah,v/553).
Mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim, sudah saatnya umat kembali pada agama mereka dan menerapkan Islam secara kaffah. Inilah kemerdekaan yang hakiki, menyerahkan diri secara total kepada Allah, taat, dan menjalankan hukum-hukum-Nya.

About Post Author