04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Taat Syariah: Solusi Gampang Mengatasi Perilaku Menyimpang

Oleh Irma Faryanti
Member Akademi Menulis Kreatif

Non Biner, mungkin masih banyak yang masih asing dengan istilah tersebut. Namun ternyata keberadaannya saat ini semakin eksis dan berani muncul di depan publik. Seperti yang baru-baru ini terjadi, setelah tersebarnya video mahasiswa baru (Maba) dari fakultas hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) berinisial NA. Ia dikeluarkan dari ruangan saat pengenalan kampus, saat dosen menanyakan jenis kelaminnya. Pengakuannya sebagai non binary, tentu mengejutkan banyak pihak (Suara.com 21 Agustus 2022)

Menyikapi hal tersebut, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menyeru pihak kampus agar segera menindak tegas jika hal tersebut mengarah pada orientasi seksual yang menyimpang. Karena hal ini bisa menjadi kampanye bagi kaum pelangi. Untuk itu diperlukan tindakan agar hal serupa tidak terulang kembali serta tidak terjadi keresahan di kalangan orang tua yang menyekolahkan anaknya di universitas tersebut.

Lebih lanjut Gubernur menyatakan bahwa sebagai negara hukum, negeri ini tidak boleh memberi ruang bagi perilaku menyimpang untuk lebih berkembang lagi. Ia yakin bahwa setiap orang tua pasti tidak menghendaki anaknya terjerumus pada perbuatan yang menyalahi norma agama. Oleh karenanya harus segera ditindaklanjuti.

Non binary atau non biner pada dasarnya merupakan gender yang mendefinisikan dirinya bukan laki-laki tapi juga bukan perempuan. Mereka biasanya memposisikan dirinya di luar jenis yang telah ada bahkan bisa jadi lebih dari satu. Sebagai pilihan di kalangan kaum pelangi, istilah yang digunakan pun bermacam-macam, seperti: off the binary, genderfluid, agender, bigender, boi, butch, androgynus dan Gender-neutral. Saat ini eksistensi mereka semakin nampak, mereka berani muncul di depan publik secara terang-terangan.

Diterapkannya sistem liberal kapitalistik menjadi penyebab berkembangnya permasalahan ini. Ide kebebasan yang digaungkan membuat manusia seolah bebas melakukan, memikirkan atau memilih apapun sekehendak hatinya. Sistem ini juga menjadikan sekularisme sebagai asas, yaitu menjauhkan peran agama dari kehidupan. Maka tidak heran jika terjadi kebablasan dari sisi kebebasan.

Kekhawatiran akan semakin eksisnya non biner di lingkungan kampus bukan tanpa alasan. Karena universitas adalah tempat mendidik generasi penerus, mahasiswa yang ada di dalamnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Jadi setiap ada ide baru masuk, sudah seharusnya disaring dengan benar agar tidak terpengaruh oleh ide permisif dan liberal. Termasuk ide non biner yang merupakan turunan dari gaya hidup kaum pelangi ini. Jika mereka terjebak, akan sulit melepaskan diri dari gaya hidup menyimpang tersebut.

Untuk mengupas tuntas solusi mengatasi kaum non binary, tentu tidak dengan merujuk pada aturan kapitalis yang salah dan merusak. Diperlukan sistem lain yang mampu memberantas hingga ke akar. Dialah Islam, dengan syariatnya yang paripurna, mampu menyelesaikan seluruh permasalahan manusia.

Sudut pandang Islam terkait perilaku menyimpang kaum pelangi telah sangat jelas. Allah Swt. telah melaknat mereka, sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam HR at Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas:
“Telah dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum nabi Luth (homoseksual).
Dalam al quran QS al A’raf ayat 81, yang artinya:
“Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki, bukan pada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.”

Untuk menyelesaikan permasalahan penyimpangan seksual perlu penyelesaian dari berbagai pihak baik individu, masyarakat juga negara. Adapun secara individu khususnya para orang tua, perlu adanya upaya untuk memahamkan mereka akan bahaya penyimpangan seksual tersebut. Mengaitkannya dengan larangan Allah yang telah melaknat kaum luth.

Adapun peran dari sisi masyarakat adalah melalui terjalinnya kontrol satu sama lain atas setiap indikasi yang muncul dari kaum menyimpang, baik pelaku ataupun pendukungnya. Kesatuan pemahaman atas kebahayaannya akan mampu menghentikan penyebaran. Sementara dari sisi negara, penerapan ideologi Islam secara menyeluruh, disertai dengan pelaksanaan sanksi yang tegas, akan memberi efek jera bagi para pelaku penyimpangan seksual.

Demikianlah, hanya dengan sistem Islam kemaksiatan berbentuk penyimpangan seksual akan mampu tersolusikan secara tuntas. Diterapkannya syariat Allah di seluruh aspek kehidupan dalam naungan institusi Islam, menjadi hal mendesak yang harus segera terwujud. Sehingga keberkahan akan senantiasa menyelimuti umat Islam.

Wallahu a’lam Bishawwab

About Post Author