06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kurikulum Anti Radikalisme, Kemanakah Arahnya?

Oleh Narti Hs
Ibu Rumah Tangga

Ribuan siswa SMU, SMK, dan SLB se- Bandung Raya mendapatkan materi tentang nilai-nilai wawasan kebangsaan dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dalam sebuah acara orasi di Youth Center Sport Jabar, Arcamanik, kota Bandung pada 4 Agustus 2022. Tema yang diangkat adalah “Moderasi Beragama dan Berbangsa yang Menyenangkan.” Acara ini diselenggarakan dengan target anak-anak muda yang dianggap rentan terhadap asupan informasi dari media sosial serta lingkungan. Menurut Kang Emil, Jabar adalah provinsi pertama yang memiliki kurikulum anti radikalisme. (pasjabar.com, 5 Agustus 2022)
Kurikulum anti radikalisme dianggap sebagai solusi bagi permasalahan banyaknya kekerasan yang terjadi di kalangan pelajar. Sehingga moderasi beragama terus digencarkan di kalangan generasi muda atau pelajar, dengan anggapan bahwa problem pemuda saat ini karena terpapar paham radikalisme.
Sebenarnya begitu banyak persoalan yang muncul di kalangan pelajar, bukan hanya pertengkaran, tawuran, ataupun perundungan, tetapi miras, gaul bebas, narkoba penyimpangan seksual, dan lainnya, yang butuh penanganan serius. Mengapa yang menjadi fokus perhatian hanyalah kekerasan, sehingga butuh dimasifkan materi moderasi beragama? Bagaimana dengan gaul bebas, narkoba, juga miras? Apakah juga dipicu oleh paham radikal?
Tentu saja bukan. Jadi sebenarnya apa yang dikehendaki pemerintah? Kemana arah dari kurikulum anti radikalisme tersebut? Mengingat radikalisme seringkali dikaitkan dengan ajaran Islam, termasuk perjuangan menegakkannya.
Moderasi beragama itu sendiri bukanlah berasal dari Islam dan bertentangan dengan ajaran Islam. Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya menjadi muslim moderat apalagi muslim radikal, tetapi mengajarkan menjadi muslim yang bertakwa. Penyebutan radikal bagi siapapun yang memegang teguh ajaran Islam hanyalah opini yang terus digaungkan oleh kafir barat, dengan maksud menakut-nakuti umat dan menjauhkan umat dari ajaran Islam kafah. Moderat sendiri adalah sebutan bagi siapapun yang toleran terhadap pemikiran Barat, walaupun nyata bertentangan dengan Islam seperti demokrasi.
Harus kita pahami bahwa Barat begitu ketakutan dengan munculnya kesadaran umat Islam yang menghendaki kebangkitan Islam. Oleh karena itu Barat sangat berkepentingan memadamkan benih-benih kebangkitan tersebut terutama dari generasi.
Permasalahan yang melingkupi negeri ini bukan hanya di bidang pendidikan. Ketidakadilan, ekonomi terpuruk, utang menggunung, korupsi yang membudaya, hingga merosotnya akhlak mulai dari kaum alit sampai kaum elit, semuanya bermuara karena mengadopsi liberalisme sekular.
Sekularisme yang meminggirkan agama dari pengaturan kehidupan telah melahirkan gaya hidup liberal. Maka wajar berbagai kemaksiatan bak jamur di musim hujan. Terus bermunculan dan tambah parah. Pelajar SMP saja bisà membunuh dan jadi germo. Anehnya yang militan dalam beragama malah dimusuhi dan dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme.
Selayaknya yang dibutuhkan generasi bukanlah moderasi, tetapi sistem pendidikan dengan kurikulum yang mengarahkan kepada generasi cemerlang. Tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki kepribadian Islam yang mengikatkan seluruh prilakunya dengan aturan Islam. Generasi bertakwa yang memiliki rasa takut kepada Allah Swt. ketika melakukan kemaksiatan.
Generasi cemerlang hanya terlahir dari sistem Islam bukan sistem sekular. Negara hadir mengurus generasi dan umat seluruhnya, untuk meraih kebahagiaannya dunia akhirat. Pemerintahan Islam tidak akan membiarkan tayangan-tayangan di media sosial dan media lainnya, seperti kekerasan dan pornografi merusak pemikiran umat. Miras bukanlah bisnis yang dilegalisasi seperti dalam sistem sekular, tetapi akan ditindak tegas siapapun yang memproduksi dan mengkonsumsi.
Sistem Islam berhasil melahirkan pribadi-pribadi yang mumpuni di bidang keilmuan duniawi sekaligus menjadi pribadi yang taat terhadap agamanya. Seperti contoh Ibnu Sina di masa pemerintahan abbasiyah yang menguasai bidang kedokteran dan dikenal taat kepada agamanya. Masih banyak ilmuwan Islam yang berkontribusi terhadap kemajuan yang dikenang sampai hari ini.
Demikianlah bukti kegemilangan pendidikan tatkala Islam kafah diterapkan. Selama 1300 tahun lebih lamanya aturan Islam hadir di tengah umat. Generasi cerdas nan takwa bisa tercipta. Hal ini menunjukkan bahwa para pelajar membutuhkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islamiyah, bukan kurikulum anti radikalisme. Cukuplah firman Allah Swt. menjadi pengingat bagi kita semua untuk merindukan tegaknya aturan Allah agar terhindar dari generasi yang tidak kita harapkan.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (TQS. an-Nisa: 9)
Wallahu a’lam bish Shawwab

About Post Author