27/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Jangan Takut Memasukkan Anak ke Pesantren

Oleh Yuli Ummu Raihan
Penggiat Literasi

Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Jangan karena belakangan terkuak beberapa kasus kekerasan hingga berujung maut di pesantren membuat kita semua memandang negatif kepada lembaga pendidikan ini.

Memang sangat menyayat hati membaca beberapa kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren belakangan ini. Seperti kasus yang menimpa BD (15) salah seorang santri di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Tangerang, yang meninggal dunia diduga karena berkelahi dengan teman sesama santri yaitu berinisial M (15).

Peristiwa itu berawal dari perkelahian yang terjadi pada Minggu, 07/08/2022 pukul 06.30 WIB dan diantar ke RSUD Balaraja oleh pihak pondok sekitar pukul 17.00 WIB. (Tangerangnetwork.com, 08/08/2022)

Masih di wilayah Tangerang seorang santri juga meninggal dunia akibat dikeroyok oleh 12 temannya lantaran adanya provokasi dari seorang tersangka yang mengatakan bahwa korban kerap melakukan aksi tidak sopan yaitu membangunkan seniornya dengan menggunakan kaki.(Tangerang news.com, 27/08/2022)

Terakhir kembali viral kasus meninggalnya seorang santri berinisial AM (15) di Ponpes ternama Gontor juga dilakukan oleh sesama santri. Selain tindakan kekerasan, kejahatan seksual juga belakangan sering terjadi di lembaga pendidikan khususnya pesantren. Kejadian ini seperti fenomena bola salju, ketika satu masalah muncul ke permukaan, dan menjadi viral karena peran media sosial, kemudian satu persatu masalah serupa terungkap.

Ada Apa dengan Dunia Pendidikan Kita Hari Ini, khususnya Pesantren?

Berbagai kasus kekerasan hingga kejahatan seksual di lembaga pendidikan khususnya pesantren tidak bisa dipandang sepele. Masifnya pemberitaan tidak ayal banyak memberikan efek negatif terhadap citra pesantren saat ini. Kita bisa membaca dari beberapa komentar netizen khususnya para orang tua yang khawatir bahkan takut untuk memondokkan anak mereka di pesantren. Ditambah berbagai curhatan dari wali santri yang buka suara terkait kejadian serupa yang dialami oleh anak atau keluarga mereka. Padahal selama ini pesantren dinilai sebagai tempat aman dan terpercaya bagi orang tua untuk menitipkan anak mereka karena berbagai keunggulannya dibandingkan sekolah biasa. Dengan memondokkan anak di ponpes orang tua menjadi lebih tenang karena pendidikan agama anak-anaknya terjaga, ibadah mereka terkontrol, serta melatih kemandirian, serta keunggulan yang lainnya.

Adanya pemberitaan kekerasan di ponpes ini membuat islamopobia semakin menggila. Kejadian ini menjadi amunisi bagi para pembenci Islam. Padahal kejadian ini hanyalah kasuistis. Kekerasan ini bisa terjadi di mana pun, tidak terkecuali pesantren. Anak-anak yang masuk pesantren berasal dari berbagai kalangan dan memiliki motif yang tidak sama ketika masuk ke sana. Ada yang murni ingin memberikan bekal agama untuk anaknya, tapi tidak sedikit juga orang tua yang menjadikan pesantren sebagai tempat untuk menitipkan anak-anak yang bermasalah (nakal) dan berharap pesantren bisa seperti laundry.

Meski di pesantren ada aturan yang ketat, tetap saja ada celah untuk terjadi pelanggaran. Santri dan para asatiz bukanlah malaikat. Sebagai manusia mereka memiliki potensi berbuat salah dan khilaf. Dibutuhkan amar ma’ruf nahi mungkar oleh semua pihak.

Sebagai orang tua kita harus memberikan perhatian dan kontrol berkala kepada anak kita. Menanyakan keadaan mereka, apa yang mereka alami, rasakan. Menjalin hubungan komunikasi yang baik antar wali santri dan pihak pondok. Ketika terjadi kasus kekerasan atau kejahatan seksual maka bicarakan dulu dengan pihak terkait, duduk bersama mencari solusi terbaik, dan jika benar terjadi pelanggaran maka perlu ketegasan untuk menegakkan keadilan.

Siapa saja yang bersalah harus diberi sanski, tanpa melimpahkan kesalahan ke semua pihak bahkan menggiring opini untuk menutup pesantren. Seekor kerbau yang berkubang, jangan semua kena cipratan lumpurnya.

Sekularisme yang menjadi asas sistem kehidupan saat ini menjadikan akal sebagai penentu baik/ buruk, salah/ benar, terpuji/ tercela. Padahal akal manusia itu terbatas dan tidak sama. Ketika akal yang menjadi penentu, maka wajar akan terjadi pro dan kontra.

Sistem kapitalisme juga menjadikan standar kebahagiaan diukur melalui kesempatan mendapatkan pemenuhan kebutuhan jasmani dan pemuasan naluri dengan menghalalkan segala cara. Maka, manusia yang telah dikuasai hawa nafsu, ditambah sistem sosial yang serba boleh, budaya hedonis, serta serangan budaya dan informasi liar membuat nafsu makin tidak terkontrol.
Maka tidak heran, santri yang dara mudanya sedang bergejolak sangat mudah tersulut emosi hingga mampu melakukan tindakan kekerasan meski dipicu oleh hal-hal kecil.

Sanski yang diberlakukan dalam sistem saat ini juga tidak menimbulkan efek jera. Sangat sulit mendapatkan keadilan apalagi untuk rakyat biasa. Uang, kekuasaan, bermain di sini. Kalau pun ada kejadian yang diberi perhatian biasanya setelah kasusnya viral.

Pendidikan agama amat sangat penting untuk bekal generasi muda. Sayangnya karena sistem kapitalisme yang diadopsi negeri ini melahirkan generasi sekuler. Islam dipisahkan dari kehidupan. Islam hanya diterapkan dalam ranah ibadah saja. Agama itu urusan pribadi jadi orang lain apalagi negara tidak berhak ikut campur. Islam dipelajari hanya sebatas ilmu dan tidak perlu penerapan secara menyeluruh. Kalau pun diterapkan maka manusia bisa memilih dan memilah sendiri aspek apa yang akan dia ambil dan yang lain diabaikan.

Pesantren adalah tempat terbaik untuk generasi bangsa ini di tengah lingkungan sosial yang sedang tidak baik-baik saja. Namun demikian untuk mencetak generasi yang gemilang butuh sinergi dari semua pihak. Orang tua, pihak pesantren, masyarakat, dan negara harus mengambil peran dengan menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan bukan yang lain.
Jadi, jangan takut untuk memondokkan anak di pesantren, pelajari dulu track record pesantren yang kita pilih, survei langsung, cari info sebanyak-banyaknya, dan percayakan anak kita kepada pihak pondok dengan tetap menjalin komunikasi. Terakhir, tawakal dan berdoa kepada Allah SWT, karena Dialah sebaik-baiknya penjaga. Ingatlah anak kitai sana dalam rangka menuntut ilmu, mereka sedang berjihad, jadi seandainya ada kejadian serupa menimpa mereka terimalah sebagai sebuah ketetapan dari Allah dengan ikhlas tanpa menafikan proses hukum. Pihak pondok juga harus bisa terbuka, mau menerima kritik dan masukan untuk. Kebaikan bersama. Wallahu a’lam bishawab.

About Post Author