25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Kapitalisasi Peran Pemuda, Syariat Kaffah Solusi Nyata


Oleh. Uqie Nai
Member AMK4

Budaya asing kebarat-baratan tak lagi bisa dibendung dan sudah mencengkeram generasi Indonesia terutama sejak adanya kemajuan teknologi dan perangkat digital. Tanpa pemahaman yang bijak dan cara pandang yang benar tentang pemanfaatan teknologi akan membuat generasi hilang arah dan masuk jeratan kapitalis (pelaku yang hanya berpikir manfaat/untung) untuk membajak potensi mereka. Maka, dalam kaca mata kapitalis, generasi muda adalah pelopor perubahan yang punya beragam ide kreatif, inovatif, dan aset ekonomi yang sangat potensial. Tak heran, iming keuntungan ala kapitalis merasuki generasi remaja hingga menginisiasi bolos/putus sekolah, nongkrong di Sudirman, buat konten, dan mengadakan fashion show di jalanan yang dikenal dengan Citayam Fashion Week (CFW). Fakta ini bukan satu-satunya generasi terbawa arus dan masuk kungkungan paham Barat, ada kebebasan berperilaku yang terus dibiarkan dan kebablasan semisal bullying, pacaran, ikhtilat (campur baur pria dan wanita), khalwat (berduaan lawan jenis yang bukan mahram) hingga tak sedikit terjerumus pada perzinaan, aborsi, dan pembunuhan bayi.

Dalam sebuah buku yang berjudul “Bara Dakwah Para Pemuda” karya M. Iwan Januar menyebutkan saat ini ada 5 tipe generasi yaitu: 1) generasi cuek terhadap agamanya; 2) generasi yang gandrung serta keracunan ideologi kufur; 3) generasi yang fokus pada diri sendiri; 4) generasi anti politik; dan 5) generasi langka yang dibutuhkan dunia.

Apresiasi Kebebasan ala Kapitalisme

Mencuatnya Citayam Fashion Week di berbagai media mau tidak mau mengalihkan konsentrasi publik dari beragam kasus yang terjadi. Perhatian positif tidak hanya datang dari kalangan masyarakat, selebgram, artis, bahkan petinggi pemerintahan seperti presiden, menteri, dan gubernur DKI. Pejabat publik ini menilai bahwa aktivitas pemuda di Sudirman dengan CFWnya adalah kreativitas yang muncul dari kekayaan intelektual remaja, patut diapresiasi, diberikan ruang dan jangan dihalangi.

Apresiasi ini sepertinya sejalan dengan upaya pemerintah untuk merealisasikan peningkatan ekonomi melalui PP yang diteken Presiden Jokowi pada 12/07/2022. Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, PP Nomor 24 Tahun 2022 ini sebagai peraturan pelaksana Undang-Undang (UU) Nomor 24 tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif. Salah satunya mengatur skema pembiayaan berbasis kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Kekayaan intelektual yang dimaksud adalah kekayaan yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia melalui daya cipta, rasa, dan karsanya yang dapat berupa karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni, dan sastra.

Undang-undang ini selaras dengan keinginan Barat (kapitalisme) untuk membelenggui generasi dari hulu hingga hilir. Maka negara yang mengadopsi paham ini akan mengapresiasi kegiatan apapun yang dilakukan generasi muda jika menguntungkan secara ekonomi. Para pemuda dianggap mempunyai modal besar berupa ide-ide kreatif dan inovatif yang dapat direalisasikan dan dikolaborasikan dalam menjalankan industri kreatif seperti desain produk film, pengembangan aplikasi, game, animasi, arsitektur, video, musik, seni rupa, kuliner, fotografi, iklan, tv, seni pertunjukan dan lain sebagainya.

Kondisi ini sungguh menampakkan betapa pragmatisnya cara berpikir kapitalis yang bahkan berimbas pada kaum mudanya. Motif ekonomi akan menjadi landasan kegiatan tanpa ada aspek ruhiyah di dalamnya. Kondisi ini jelas bukan membawa pengaruh positif, melainkan pengaruh negatif yang telah menjelma menjadi “narasi positif” sehingga dianggap sebagai suatu kreativitas. Kaum muda yang semestinya menjadi generasi terbaik dan berperan sebagai problem solver (generasi militan) malah begitu mudah tersesat dalam kubangan nikmat sesaat yang sebenarnya merusak mereka dan peradaban.

Syariat Kaffah Solusi Menyelamatkan Generasi

Dalam pandangan Islam, remaja berekspresi adalah suatu hal yang positif. Namun, tentu saja berekspresinya dalam batasan syariat Islam dan tetap dalam koridor ketakwaan. Ekspresi dan kreativitasnya remaja muslim adalah cermin ketaatan mereka pada Allah Swt. dan rasul-Nya yang harus berpengaruh pada kehidupan Islam dan bermanfaat untuk umat. Dengan atau tanpa teknologi, ada atau tidaknya media sosial, mereka harus menjadi teladan bagi masyarakat dalam memegang amanah, istikamah, jujur, mampu menjaga kehormatan, dan memiliki akhlak-akhlak mulia lainnya sesuai dengan tuntunan Islam.

Ingatlah bagaimana kisah Mus’ab bin Umair saat diutus Rasulullah saw. untuk menyebarkan Islam hingga terbukanya pintu nashrullah berdirinya Daulah Islam di Madinah. Lalu ada Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Syam padahal baru berusia 18 tahun. Zaid bin Tsabit yang dengan gagah berani berjihad di usianya yang baru 13 tahun. Atau kisah Imam Syafi’i yang telah hafal Al-Qur’an di usia 9 tahun, serta Ibnu Sina yang telah hafal Al-Qur’an di usia 5 tahun bahkan kemudian mampu menjadi bapak kedokteran dunia, juga ilmuwan muslim lainnya dengan karya yang spektakuler yang belum ada di masanya selain masa kepemimpinan Islam dan peradabannya seperti Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Khaitam, Ibnu Khaldun, Az-Zahrawi, Ibnu An-Nafis dll. serta kisah heroik Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel yang mampu menjadi sultan di usia muda. Itulah generasi muda militan Islam terdahulu yang gaungnya masih terdengar sampai saat ini.

Agar generasi muslim paham dan sadar akan potensi-potensi yang dimilikinya, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, akidahnya harus dikokohkan. Karena posisi akidah Islam ibarat akar dari sebuah pohon atau pondasi dari sebuah bangunan. Kuat lemahnya akar (pondasi) akan sangat berpengaruh pada kuat lemahnya pohon dan bangunan di atasnya. Kedua, para generasi muda harus punya kesadaran untuk terikat pada aturan Allah Swt. sebagai konsekuensi keimanan mereka. Menjadikan iman generasi terpisah dari aturan Allah atau memisahkan aturan Allah dari kehidupan yang mereka jalani, justru akan menjatuhkan mereka pada kehancuran dan kerusakan. Ketiga, lingkungan (masyarakat) juga harus kondusif untuk tumbuh kembang anak agar terbentuk kepribadian Islam pada mereka. Keempat, negara. Yakni keberadaan negara yang berkarakter raa’in (pemelihara) dan junnah (perisai pelindung) bagi rakyatnya, dengan penerapan kebijakan dan peraturan yang benar sesuai tuntunan-Nya. Rasulullah saw. telah bersabda: “Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan masing-masing dari kalian akan diminta (pertanggungjawaban) atas orang yang berada di bawah pimpinan kalian….” (HR. Muttafaq alaih)

Negara semacam ini selain akan melindungi generasi dari berbagai keburukan juga sanggup mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat dan generasi, kepala per kepala. Baik kebutuhan primer atau sekunder, kebutuhan pokok atau kolektif. Maka suatu keniscayaan penerapan Islam kaffah akan menghadirkan kembali generasi terbaik sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 110.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang fasik.”

Wallahu a’lam bi ash Shawwab.

About Post Author