04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

CACAR MONYET MASUK INDONESIA, TIDAK ADA PROTEKSI TOTAL DARI NEGARA

Oleh : Ummu Khadijah

Ditengah menurunnya wabah COVID-19, kini WHO kembali menerima laporan terkait meningkatnya kasus cacar monyet (monkeypox). Tertanggal 31 Mei 2022, cacar monyet telah menyebar luas ke 12 negara non endemis di 3 regional WHO, regional Eropa, Amerika, western pasific. Kasus ini juga resmi berstatus darurat kesehatan global oleh WHO sejak sabtu, 23 Juli 2022. Kasus cacar monyet pertama kali ditemukan pada mamalia monyet pada tahun 1958, sedangkan pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo terjadi kasus pertama kali cacar monyet yang menginfeksi manusia.
Di wilayah Indonesia sendiri, kasus cacar monyet (monkeypox) pertama kali dilaporkan tanggal 20 Agustus 2022 pada seorang WNI berusia 27 tahun selepas melakukan perjalanan luar negeri.

Penyakit cacar monyet merupakan salah satu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus monkeypox, genus orthopoxvirus, dalam famili poxviridae. Penularan monkeypox sendiri, dapat terjadi karena kontak langsung dengan hewan atau manusia yang terinfeksi, maupun secara tidak langsung melalui bahan yang terkontaminasi. Untuk penularan dari manusia ke manusia, dapat terjadi melalui luka infeksi ataupun cairan tubuh penderita.

Gejala yang dialami penderita cacar monyet antara lain : sakit kepala, demam akut, limfadenopati, myalgia, sakit punggung, asthenia, lesi cacar (benjolan berisi air ataupun nanah pada seluruh tubuh). Monkeypox dapat terjadi selama kurang lebih 2-4 minggu, bahkan dapat menyebabkan kematian. Hal ini dibuktikan dengan adanya kasus kematian 1 dari 10 orang penderita di Afrika. Untuk mencegah penyebaran infeksi virus monkeypox, dibutuhkan tindakan preventif seperti : Hindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi reservoir virus baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui barang yang telah digunakan hewan tersebut, Hindari kontak secara langsung maupun tidak langsung dengan penderita yang terinfeksi, rutin mencuci tangan sebelum dan setelah beraktivitas, serta mengolah makanan dengan baik dan benar (misalnya mengolah daging hingga matang).

Selain tindakan preventif diatas yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi cacar monyet, maka perlu adanya pencegahan dan penanggulangan dalam skala besar. Terkhususnya peran Negara. Hingga saat ini, kementerian kesehatan tengah menyiapkan obat-obatan dan vaksinasi sebagai penanggulangan terjadinya cacar monyet tersebut. Namun, hal tersebut tidak cukup untuk memberantas dan menanggulangi kasus monkeypox hingga ke akar-akarnya. Bahkan, upaya tersebut tergolong lambat jika dibandingkan dengan pertama kali dilaporkannya kasus cacar monyet tersebut. Hal ini disebabkan, negara kapitalisme tidak segera mengambil tindakan dalam pemberantasan penyebaran virus tersebut. Dibuktikan dengan ditetapkannya status darurat setelah kasus menyebar hingga lebih dari 70 negara di dunia. Negara kapitalisme beranggapan bahwasannya, jika kasus kematian yang presentasenya masih dibawah 1%, dapat diartikan tidak berbahaya. Hal ini mendorong mereka untuk lebih mementingkan hal yang tidak seharusnya dipentingkan, tak lain adalah yang berhubungan dengan materi. Menganggap materi diatas segalanya merupakan suatu kebanggaan bagi dunia kapitalisme. Dibuktikan dengan enggan ditutupnya akses antar negara guna mencegah luasnya penyebaran virus, karena akan meningkatkan kerugian distribusi barang dan jasa. Sehingga kesejahteraan dan kesehatan ummat tergadaikan. Hal ini menggambarkan bahwa sistem perekonomian kapitalisme demokrasi saat ini tidak teratur, bahkan menurut data kemenkeu, hutang negara Indonesia membengkak hingga mencapai 7000 triliun. Seluruh kebutuhan pokok setiap individu masyarakat harus dijamin pemenuhannya per individu secara sempurna. Juga harus dijamin kemungkinan setiap individu untuk dapat memenuhi kebutuhan sekunder semaksimal mungkin, namun tak lupa untuk memperhatikan kesejahteraan hidup terutama pemeliharaan jiwa manusia.

Berbeda dengan sistem islam, yang menjadikan penjagaan dan pemeliharaan jiwa manusia sebagai salah satu penerapan syariat islam. Jika terjadi wabah infeksi penyakit menular, maka khilafah akan segera mengambil tindakan penanggulangan tanpa menunggu adanya penyebaran infeksi secara luas. Terutama mengkoordinir akses perpindahan agar tidak terjadi penularan dari daerah yang terinfeksi ke daerah non infeksius.
Dari Yahya bin Ya’mar, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ath-tha’un (wabah yang menyebar dan mematikan), maka beliau menjawab,
كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ
“Itu adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, Allah menjadikannya sebagai rahmat kepada orang beriman. Tidaklah seorang hamba ada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, ia tidak keluar dari negeri tersebut lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid ” (HR. Bukhari, no. 6619)
Selain itu, negara juga akan melakukan upaya pemisahan antara yang sehat dan sakit yang dilakukan dengan dua pendekatan : pertama, proses tracking atau penelusuran orang yang terjangkit penyakit menular. Setiap pasien yang mengalami keluhan kesehatan, dilakukan pengecekan apakah ada yang terpapar. Kedua, dapat dilakukan pemeriksaan masyarakat umum guna agar mengetahui apakah terjangkit penyakit menular atau tidak misalnya melalui tempat-tempat publik seperti bandara, stasiun, terminal, dan lain sebagainya.

Konsep sistem kesehatan dalam islam, negara menyediakan fasilitas kesehatan secara gratis dan profesional. Berbeda dengan sistem saat ini yang serba-serbi persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat bahkan tak jarang memiliki biaya yang mahal. Pada forum pemerintahan, melalui penyampaian presiden RI pada tanggal 18 Juni 2020, mengungkapkan bahwa dana yang disiapkan untuk kementerian kesehatan sebesar 75 triliun, namun dengan keadaan krisis yang banyak membutuhkan aksi dan dana pada saat itu, dana triliunan tersebut hanya digunakan sekitar 1.53%. Sebelum maraknya kasus monkeypox ini, betapa banyak bukti kesengsaraan ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat penyebaran luas COVID-19, mulai dari biaya Screening test antigen/antibody, PCR Test, isolasi, dan lain sebagainya. Jaminan kesehatan dalam islam memiliki empat sifat, antara lain :

  1. Universal. Tidak ada pembedaan dan pembagian tingkat pelayanan kesehatan di masyarakat. Seluruhnya dilayani secara merata dengan kualitas pelayanan yang memadai .
  2. Bebas biaya baik dari segi perawatan, obat-obatan, vaksinasi, maupun monitoring kesehatan secara berkala.
  3. Mudahkan akses pelayanan kesehatan oleh masyarakat
  4. Pelayanan mengikuti kebutuhan medis, dan tidak dibatasi oleh JKN atau BPJS seperti yang terjadi pada sistem saat ini.
    Selain itu, negara akan melakukan spesifisitas virus, serta memaksimalkam pengadaan vaksin dan obat-obatan yang mendukung penanggulangan kasus tersebut.

Beberapa pernyataan diatas, membuktikan perbedaan yang signifikan terkait ketegasan penanganan kasus cacar monyet antara negara sistem islam dan kapitalisme. Penerapan Islam secara kaffah merupakan solusi yang fundamental dalam mencegah dan menuntaskan penyakit menular hingga ke akar-akarnya.

About Post Author