06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

DATA SELULER KEBOBOLAN, KEAMANAN RAKYAT TERANCAM

Oleh Asti Marlanti

Lagi dan lagi. Kejahatan di dunia maya kian meresahkan. Kali ini,
dunia maya dihebohkan dengan informasi bocornya data registrasi kartu seluler prabayar. Data ini disebut-sebut diperjualbelikan di internet.

Dilansir oleh detik.com, dalam unggahan forum breached to, seorang pengguna dengan nama Bjorka memposting data tersebut. Menurut akun bernama Bjorka tersebut, data berukuran 87Gb tersebut berisi 1,3 miliar data terkait pendaftar.

Menurutnya, data tersebut berisi nomor induk kependudukan (NIK), nomor telepon, nama operator seluler, dan tanggal registrasi. Ia juga memberikan contoh yang bisa didapat gratis berisi dua juta pendaftar. Sementara itu, untuk menebus data secara penuh, harganya adalah USD 50.000.

Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid mengungkapkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kominfo perlu menjelaskan secara terbuka mengenai informasi kebocoran data ini. Sementara itu, Johnny G. Plate membantah tuduhan dugaan kebocoran data pendaftaran kartu SIM prabayar yang bersumber dari Kominfo. Ia berjanji akan segera melakukan audit untuk mencari asal usul kebocoran data tersebut.

Masyarakat Panik

Kebocoran data yang berulang sudah dipastikan memberikan kepanikan bagi masyarakat. Hal ini tentu merugikan masyarakat, karena mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat.

Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengatakan sejumlah masyarakat tidak paham dengan potensi kejahatan akibat kebocoran data pribadi. Data itu seperti nama lengkap, tempat tanggal lahir, alamat, nomor telepon hingga email. Ancaman yang berpotensi terjadi adalah scam dan phishing. Scam adalah tindakan penipuan dengan berusaha meyakinkan pengguna, misal memberitahu pengguna jika mereka memenangkan hadiah tertentu yang didapat jika memberikan sejumlah uang. Sementara phishing adalah teknik penipuan yang memancing pengguna. Misal untuk memberikan data pribadi mereka tanpa mereka sadari dengan mengarahkan mereka ke situs palsu. (Solopos, 21/5/2021)

Sungguh miris negeri ini. Peristiwa terkuaknya kebocoran data pribadi masyarakat secara berulang menjadi sinyal hahwa betapa buruknya sistem perlindungan dan keamanan data di negeri ini. Negara sepatutnya menggunakan semua perangkat yang bisa diberdayakan untuk mengatasi kebocoran data yang berulang, sehingga tak akan ada lagi kebocoran.

Namun hal itu sungguh sulit di era kapitalisme seperti sekarang. Karena semua bisa diperdagangkan, termasuk data privasi masyarakat. Tak peduli terhadap keamanan dan kenyamanan orang lain, yang penting pelaku bisa mendapat untung. Begitulah watak seorang kapitalis. Iman tak jadi ukuran dan aqidah tak jadi pedoman. Semuanya dilakukan demi mendapatkan uang.

Lalu bagaimana dengan peran negara? Faktanya, negara pun tak mampu melindungi rakyatnya. Bahkan tahun lalu, data para pejabat, termasuk data pribadi orang nomor satu di Indonesia pun diretas dan bocor. Inilah bukti kegagalan kapitalisme dalam melindungi rakyatnya. Rakyat menilai sangat jauh dari rasa di aman dan nyaman.

Jaminan Keamanan dalam Islam

Islam mewajibkan negara memberikan jaminan keamanan bagi setiap individu rakyat. Dan keamanan data juga merupakan bagian dari hak rakyat untuk memiliki sistem perlindungan dan keamanan.

Sistem Islam memiliki alat utama dalam menjaga keamanan, yaitu kepolisian. Dalam Khilafah Islam, urusan keamanan negara ditangani oleh Departemen Kemananan Dalam Negeri yang dipimpin oleh Direktur Keamanan Dalam Negeri.

Keberadaan polisi begitu penting dalam Khilafah Islam. Para polisi diberikan wewenang oleh negara untuk melakukan pencegahan maupun penindakan. Tugas dan fungsinya sungguh mulia karena menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Polisi juga dibekali berbagai ilmu dan keahlian yang mendukung tugas mulianya, sehingga kebocoran data merupakan perkara minim terjadi dalam sistem Khilafah Islam.

Selain itu, Khalifah begitu cermat dan jeli dalam meneliti berbagai laporan dari setiap departemen yang ada di bawah wewenangnya. Khalifah tentu dibantu oleh para pembantunya yang memiliki loyalitas tinggi dan bertanggung jawab dalam amanah yang diberikan. Sehingga akan mudah terlacak dan diketahui jika terjadi kekeliruan dalam setiap permaslahan.

Hal ini diungkapkan oleh Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization. Ia menilai bahwa para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Tak diragukan kemampuan para Khalifah memimpin dunia sungguh sangat mengagumkan.

Dengan demikian, sistem keamanan yang ampuh hanyalah ada dalam sistem Khilafah Islam. Rakyat akan aman dan terlindungi dalam hidupnya. Karena khalifah adalah perisai (pelindung) bagi rakyatnya. Sesuai dalam hadis riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, ”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.”

Wallahu a’lam bishshawaab

About Post Author